Wednesday , 13 December 2017
Penyelamatan Ikon Langsat Buah Berau dari Mati Pucuk Daun

Penyelamatan Ikon Langsat Buah Berau dari Mati Pucuk Daun

Jum’at, 25 Agustus 2017

Yayasan Komunitas Belajar Indonesia (Yakobi) melakukan kegiatan Peningkatan Kapasitas Petani Buah untuk pengembangan Agrowisata Kampung Buah Birang. Kegiatan ini bertujuan agar para petani buah di Kampung Birang dapat mempelajari teknik perawatan pohon secara umum dan spesifik, dan menguatkan kesadaran perlindungan aset sumber daya alam di Kampung Birang melalui penguatan sosial, ekonomi dan ekologi masyarakat.

Kampung Birang memiliki potensi kebun buah lokal yang beragam dan salah satu yang menjadi ikon buah Kabupaten Berau adalah langsat (Lansium Domesticum Jack) varietas roko. Narasumber Ibu Ir. Ceciliany Permadi, MS atau lebih akrab disapa dengan nama Ibu Susen Suryanto, beliau adalah peneliti berbagai jenis tumbuhan di Indonesia dan penulis buku Pesona  101 pohon di tahura IR. H. Djuanda yang di terbitkan September 2016 lalu.

Kehadiran Ibu Susen mengundang antusiasme peserta cukup besar, dalam pemaparannya mengenai manfaat buah langsat, seperti memperlancar sistem pencernaan, mencegah kanker dan radikal bebas, kulit kayunya (pegagan) dapat dijadikan sebagai obat gigitan serangga dan disentri, buahnya dapat memutihakan kulit, kulit langsat dapat digunakan sebagai obat anti nyamuk, dan biji langsat kering bisa digunakan  sebagai obat cacing dan demam

Melalui berbagai macam manfaat buah langsat, lokalatih yang dihelat dua hari, 25-26 Agustus 2017, mendorong para peserta untuk bisa mengolah buah langsat menjadi olahan yang kreatif seperti selai, sirup dan obat-obatan. Sehingga saat panen raya tiba, buah langsat dapat dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin.

Selain itu peserta mendapatkan pengetahuan terkait penanganan hama dan cara meregenerasi atau memperbanyak pohon langsat dari kepunahan terutama dengan cara sambung pucuk (grafting).  Tehnik ini memungkinkan sifat-sifat genetika batang atas anakan yang dihasilkan sama dengan induknya, sementara waktu tunggunya dipersingkat menjadi 5-6 tahun. Pada hari kedua fasilitasi berupa praktek langsung lapangan dan menentukan starategi penanganan hama secara serentak sesuai dengan kondisi pohon langsat di Kampung Birang. (NA)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*