Wednesday , 13 December 2017
YOUTH GREEN CAMPING BERAU

YOUTH GREEN CAMPING BERAU

Sebagai dukungan terhadap pelestarian alam dan promosi wisata hutan, Yayasan Komunitas Belajar Indonesia (YAKOBI) didukung Yayasan Operasi Walacea Terpadu (OWT) melaksanakan kegiatan Kampanye Penanaman dan Perkemahan Alam (Youth Green Campaign Berau) pada tanggal 30 Maret – 02 April 2017 di Kawasan Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL), Kecamatan Kelay.

Sebelum melaksanakan kegiatan ada beberapa persiapan yang harus dilakukan; meminta izin serta surat pengantar kegiatan pada dinas terkait serta melakukan penjaringan peserta dari beberapa sekolah yang ada di Tanjung Redeb dan Kelay. Yakobi juga mengadakan Post Card Writing Competition yang ditujukan kepada siswa dan siswi tingkat SMA/sederajat di Kabupaten Berau, dimana 5 orang pemenang lomba akan mendapatkan kesempatan untuk bergabung dalam kemah dan mendapat beasiswa belajar bahasa Inggris dari YAKOBI-ELC.

Melalui seleksi tersebut, terpilihlah 10 peserta dari SMKN 4 Kelay dan 5 peserta dari SMPN 29 Kelay. Sedangkan peserta yang berasal dari Tanjung Redeb sebanyak 25 orang, yaitu 15 peserta yang ditunjuk langsung oleh Saka Pariwisata, dan 10 orang perwakilan dari sekolah dampingan Yakobi, SMA IT Ash-Shohwah, serta pemenang post card writing competition.

Sebelum keberangkatan ke lokasi kemah, setiap peserta yang ada di Tanjung Redeb dikumpulkan pada tanggal 28 Maret 2017 untuk melakukan briefing yang dipimpin oleh Bang Fakhri dan dan Bang Asri. Sedangkan peserta dari Kelay baru melakukan briefing pada tanggal 29 Maret 2017 yang dipimpin oleh Kak Gilang dan OWT. Hari itu, peserta dibekali informasi tentang jarak tempuh Tanjung Redeb-HLSL serta medan yang akan mereka lalui selama perjalanan. Para peserta juga diinformasikan mengenai kebutuhan apa saja yang harus mereka persiapkan selama kemah berlangsung. Para peserta yang ada di Tanjung Redeb diberi tugas oleh Bang Fakhri untuk membuat totebag dari kaos second untuk dipergunakan selama kemah dan akan dihadiahkan untuk kawan mereka yang ada di Kelay.

Pukul 06.30 WITA, 30 Maret 2017, peserta sudah berkumpul di head office YAKOBI untuk mempersiapkan keberangkatan. Peserta dan panitia yang akan berangkat pada hari itu sudah dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai kapasitas dalam mobil. Tidak lupa, peserta juga diajak untuk berdoa bersama demi kelancaran kegiatan dan perjalanan hingga sampai di Hutan Lindung Sungai Lesan kemudian kembali lagi ke Tanjung Redeb.

Sekitar pukul 11.00 WITA, peserta sudah sampai di kampung Lesan Dayak dengan melalui jalan becek dan menanjak, bahkan ada satu mobil yang tidak berani naik ke atas gunung sehingga harus meninggalkan kendaraannya dan menumpang mobil lain. Sampai di kampung, peserta diajak ke balai desa untuk acara penyambutan oleh warga kampung. Acara penyambutan dimulai dengan tari Dayak tunggal putra dan putri, kemudian ada penyampaian kata sambutan dari kepala Adat Lesan Dayak, kepala KPHPMBB, serta undangan lain yang hadir.

Selepas acara penyambutan, peserta diajak untuk ke lahan penanaman pohon dengan pengaturan tanam pohon legume dan buah secara berderet dan selang-seling. Beberapa dari peserta mengaku baru pertama melakukan penanaman pohon, jadi masih perlu dibantu oleh Bang Dedy selaku pemandu mereka selama acara penanaman pohon. Bibit pohon-pohon pun sudah selesai ditanam, kemudian peserta diajak untuk istirahat makan siang lalu bersiap berangkat menuju ke HLSL menggunakan ketinting.

Untuk mengangkut semua peserta dan panitia yang berjumlah ± 60 orang dan barang-barang, kami membutuhkan 11 ketinting untuk mengangkutnya. Perjalanan dari kampung menuju HLSL hanya sekitar 45 menit, cukup membosankan jika tidak ada pemandangan yang indah. Untunglah, peserta disuguhkan dengan pemandangan hijau hutan dan sungai yang membentang luas sepanjang perjalanan dan beberapa satwa seperti burung enggang dan babi hutan. Panitia serta barang-barang baru berhasil diangkut semua menjelang malam hari. Sungguh perjalanan menyenangkan sekaligus melelahkan. Sesampainya di lokasi kemah, para peserta dikumpulkan untuk saling berkenalan dan diberi tugas membuat yel-yel dari kelompok masing-masing. Menjelang Magrib, seluruh kegiatan dihentikan untuk beribadah salat Magrib bagi peserta yang beragama Islam. 

Malam itu adalah malam pertama mereka di tengah hutan. Saat itu, alam sangat bersahabat dengan kami. Cuaca sangat baik, suara alam, burung dan hewan malam membuat malam itu semakin indah. Bintang-bintang di langit seolah turut bersuka ria bersama kami. Sambil menunggu makan malam siap dihidangkan oleh koki (Kak Hani dan Kak Santi), para peserta diajak untuk menyimak materi 7 kesadaran ekologis yang dibawakan oleh Kak Mirna dan Kak Zakiah. Walaupun dalam keadaan lapar, mereka masih tetap menyimak materi tersebut dengan baik, setidaknya itu yang tampak dari wajah mereka dan selingan tawa pada setiap sesi materi.

Pagi harinya, peserta dibangunkan untuk salat Subuh berjama’ah kemudian dilanjutkan dengan kegiatan membumi. Ketika membumi, peserta diajak untuk duduk bersila sambil memejamkan mata, merasakan udara yang sejuk, bershalawat dan mengucap syukur menurut agama dan kepercayaan masing-masing atas segala nikmat yang Tuhan berikan.

Tidak hanya kegiatan membumi yang menjadi rutinitas selama kemah, peserta juga selalu diingatkan oleh Bang Fakhri untuk eat mostly plants, not too much. Kak Mirna juga selalu mengingatkan seluruh peserta dan panitia untuk mengambil makanan secukupnya, mengingat teman yang belum makan, serta bertanggungjawab dengan makanan yang sudah mereka ambil untuk dihabiskan.

Pada hari kedua kegiatan, hujan turun di HLSL. Sehingga, mengharuskan peserta menunda penjelajahan ke hutan. Untuk mengisi kekosongan, Bang Fakhri mengajak peserta untuk berkumpul di lantai dua research station HLSL dan meminta mereka menuliskan harapannya terhadap kegiatan camping tersebut dengan menuliskannya di kertas dan menceritakannya pada teman-teman. Salah satu harapannya, mereka ingin kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan dan sebagai wadah untuk belajar mengenal alam secara langsung.

Setelah hujan reda, peserta dibagi menjadi empat kelompok untuk menjelajah hutan bersama dengan beberapa Kakak Yakobi dan Nemdoh Nemkay (NN) untuk mendampingi mereka. Peserta bukan hanya diminta untuk menjelajah hutan namun juga mencari tanaman-tanaman yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga seperti tanaman obat, bumbu masak, dan lain-lain.

Setelah pulang tracking, beberapa peserta ada yang mengalami luka, muntah karena maag kumat dan tersengat lebah. mungkin karena belum terbiasa kali ya, atau karena tragedi telat makan kemarin malam. Lain lagi dengan peserta yang sibuk bercerita pada temannya bahwa kali itu adalah pertama kalinya masuk ke hutan. Seru sekali menyimaknya. Ada yang mau lagi ke hutan?

Pada hari ketiga sebelum sarapan pagi, peserta diajak untuk menggelar terpal di pinggir sungai kemudian menyiapkan sarapan. Seperti biasa sebelum memulai makan, Bang Fakhri akan mengundang salah satu teman untuk memimpin doa bersama kemudian meminta untuk hening 3 menit. Bagi siapa saja yang tidak mengambil sayur sebagai lauk makannya, bang Fakhri akan mengeluarkan mantra eat mostly plants, not too much berulang-ulang.

Setelah selesai sarapan, dr. Jek—tenaga medis yang mendampingi peserta selama kegiatan— memberikan penyuluhan tentang HIV/AIDS dan bahaya merokok kepada peserta. Ia juga menceritakan pengalamannya keluar dari kebiasaan merokok setelah bertahun-tahun. Para peserta terlihat sangat antusias menyimak materi yang diberikan dan bersemangat sekali ketika ada sesi tanya-jawab. Beberapa teman juga berbagi pengalaman mereka tentang orang-orang yang ketagihan merokok dan sekarang sedang berusaha untuk berhenti. Semoga setelah mendengar pencerahan dari Kakak Dokter, tidak ada  lagi anak muda yang suka merokok ya, apalagi sampai mengkonsumsi NAPZA.

Akhirnya hujan reda, peserta kembali dibagi menjadi empat kelompok. Masing-masing kelompok mendapatkan rute berbeda namun tujuan penjelajahan mereka masih sama, yaitu untuk mencari bahan makanan, tanaman obat atau materi yang dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga. Ada tiga kelompok yang jalan mendaki gunung hingga ke menara, ada pula yang hanya sampai ke beberapa pos saja. Salah satu kelompok memilih rute berbeda, tadinya kelompok tersebut ingin menyusur sungai menggunakan ketinting, tapi karena beberapa tim panitia ikut bergabung dalam kelompok tersebut, akhirnya rencana itu batal karena karena satu ketinting tidak muat untuk 17 orang anggota kelompok.

Setelah perjalanan dan masing-masing kembali ke research station, beberapa peserta tumbang. Untunglah ada Kakak Dokter yang sigap membantu. Pokoknya kak dokter keren deh, selalu siap siaga. Terima kasih atas dedikasimu pada kami, Kak.

Pada malam terakhir di HLSL ada agenda pesta budaya, dimana seluruh peserta dalam kelompok diwajibkan untuk menampilkan karyanya. Ada 9 kelompok yang turut berpartisipasi dalam pesta budaya tersebut termasuk panitia. Peserta diminta untuk berkumpul di halaman research station dan menyalakan api unggun. Kakak Yakobi dan OWT membuka acara tersebut dengan membacakan pantun sambil bernyanyi. Kemudian diikuti oleh masing-masing kelompok yang menampilkan hasil karya mereka. Ada yang bernyanyi lagu nasional, berpuisi, bermain drama, dan menari Dayak. Uniknya, ada kelompok—yang katanya— tidak sempat latihan sehingga mereka hanya merekontruksi kejadian menarik yang mereka temui selama kemah berlangsung. Namun, tingkah kocak mereka berhasil memecah tawa teman-teman malam itu.

Sebelum menutup acara, giliran seluruh tim Yakobi, OWT, NN, dan Kakak Dokter menampilkan tari sisi’-maga yang tidak kalah heboh dengan peserta. Tawa lepas, pecah mengiringi tari sisi’-maga oleh seluruh peserta.

Si’ si’ kore!
Si’ si’ koressa!
Sisisisi maagaa…
Sisisisi maagaa…
Maaga – maagaa
Maaga – maagaa
Maaga – maagaa

Si’ si’ kore!
Si’ si’ koressa!
Ulin – uuliin…
Ulin – uuliin…
Uuliiin…
Uuliiin…

Si’ si’ kore!
Si’ si’ koressa!
Orang Uutaan…
Orang Uutaan…
Orang Uutaan…
Orang Uutaan…

Ada satu kutipan menarik dari penampilan peserta saat itu, “alam tidak membutuhkan kita, tapi kita yang membutuhkan alam”. Malam itu, diantara gerimis dan suara jentikan api unggun, kami memandang langit sambil mengucap,  fabi-ayyi ala-i rabbikuma tukazziban (then which of the favours of your Lord will you deny?). (ndf/akt)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*