Tuesday , 23 January 2018
Potret Pendidikan Kabupaten Berau di Wilayah Terluar

Potret Pendidikan Kabupaten Berau di Wilayah Terluar

Tanjung Redeb, 09 Maret 2016, Kepedulian Pemerintah Pusat untuk membangun pendidikan di daerah ditunjukkan dengan penyelenggaraan program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal (SM3T). Program ini telah dibuka oleh Kementrian Riset Teknologi dan Dikti (Kemenristek dan Dikti) sejak lima tahun lalu. Pada SM3T angkatan kelima ini, empat puluh orang sarjana pendidikan dari Universitas Negeri Makassar telah mengabdi selama enam bulan di Kabupaten Berau dan tersebar di beberapa kecamatan, diantaranya; Kecamatan Kelay, Segah, Maratua, Pulau Derawan, Tabalar, dan Batu Putih.

Untuk memperkenalkan potret pendidikan di daerah-daerah tersebut, SM3T menggelar suatu kegiatan dengan mengangkat tema Marginal Education Expo.  Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, dimulai pada tanggal 9-10 Maret 2016 bertempat di gedung NU-Yakobi Learning Center di Jalan Soetomo No 9 di Tanjung Redeb.

Kegiatan Marginal Education Expo dibuka oleh Kepala Bagian Pendidikan Dasar Kabupaten Berau dan dihadiri oleh Pimpinan PCNU Berau beserta jajarannya, Kepala BPJS Kesehatan Kabupaten Berau, Yayasan Komunitas Belajar Indonesia (YAKOBI), dansiswa SD, SMP, dan SMA di Tanjung Redeb besertaguru pendamping.

Pameran potret pendidikan di enam kecamatan yang menjadi wilayah destinasi program SM3T ini menjadi salah satu suguhan menarik bagi para pengunjung yang hadir. Ada pula kelas bacarita bagi pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA), tips & trik menghadapi UN dan SBMPTN, lomba rangking 1 bagi pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP), serta lomba mewarnai bagi siswa kelas 1 SD.

Pengalaman Mengajar

Wahyuningsih, salah satu peserta program SM3T yang ditempatkan di Kampung Pisang-pisangan Kecamatan Tabalar, menceritakan pengalamannya ketika harus menempuh perjalanan selama berjam-jam melalui darat dan laut. Ia juga menghadapi tantangan untuk memperoleh referensi buku pelajaran sekolah yang memadai karena tidak adanya perpustakaan pada kampung tersebut. Lain pula dengan cerita As’ad, pengajar SM3T yang bertugas di Kampung Long Ngui Kian Kecamatan Kelay, ia acapkali menemukan kelas yang kosong karena para siswanya pergi menemani orang tuanya untuk mendulang emas.

Dari beberapa hambatan-hambatan yang mereka alami, para pengajar muda ini sangat bangga dengan antusiasme belajar siswa yang tinggi sehingga mereka menjadi lebih bersemangat untuk tetap mengabdi. Sambutan hangat dari masyarakat kampung dan adanya saling toleransi antar suku dan umat beragama juga menjadi hal yang paling menyenangkan bagi mereka.

Para pengajar berharap dapat melakukan perubahan bagi masyarakat meskipun melalui hal sederhana seperti mengajarkan bagaimana mencuci tangan dan menyikat gigi yang benar, pelaksanaan upacara bendera, atau bahkan membiasakan mereka menggunakan Bahasa Indonesia.

Harapan Pemerintah Baru

Marginal Education Expo tentu saja bukan hanya ajang untuk menampilkan apa yang telah dikerjakan oleh para pemuda yang terhimpun dalam SM3T, namun juga sebagai pembelajaran di enam kecamatan yang dapat menjadi bahan perbaikan dan penguatan program pendidikan sekolah untuk pemerintahan yang baru di Kabupaten Berau. Tantangan aksesibilitas, sumber bahan ajar maupun keterlibatan orangtua untuk memberikan hak edukasi anak menjadi fakta-fakta lapangan yang perlu segera disikapi oleh pembuat kebijakan untuk menjawab kebutuhan warga di kampung yang termarginalkan.

Sehingga Kabupaten Berau dengan pemerintahan yang baru dapat membawa harapan upaya bersama mengurangi ketermarginalan warga dari hak akan pendidikan. Memandang manusia sebagai kekayaan terbesar sebuah bangsa dan bukan sumber daya alamnya sebagai epilog langkah nyata yang dapat diwujudkan bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*