Tuesday , 23 January 2018
Sepenggal Catatan Perjalanan ke Merabu

Sepenggal Catatan Perjalanan ke Merabu

Dalamnya Danau Nyadeng, Junjung Tinggi Kebersamaan

The exotic of Merabu. Begitulah kata-kata yang terucap ketika melakukan trek ke Kampung Merabu di wilayah pedalaman Kelay, Kabupaten Berau. Perjalanan kali ini benar-benar membuka mata, benar melelahkan, tapi makin membuat makin cinta pada bentang alam Bumi Batiwakkal. *RAHMA, Merabu

PAGI sekali, satu demi satu kawan-kawan Yayasan Komunitas Belajar indonesia (Yakobi) berdatangan ke markas Yakobi. Mereka itu Gilang, Zakia, Mirna, Rahmat, dan saya sendiri. Perjalanan ini merupakan agenda tahunan yang direncanakan dan dilakukan untuk refleksi dan refreshing organisasi di akhir tahun. Sedikit cemas pagi Itu, selain dua kawan, Ari dan Nurul, yang urung berangkat karena urusan yang tidak bisa ditinggalkan, juga ada satu kawan, Chigo, yang hingga pagl keberangkatan, tidak punya pakalan kering untuk dibawa.

Sopir mobil sejak pagi sudah bersiap-siap. Mulai memanaskan mobil Mitsubishi Pajero 4WD warna putih. Sambll beberapa kali bolak-balik dan menatap harap kepadaku. “Jadi berangkat enggak ya,” begitu kira-kira dalam benak sopir. Akhirnya, kami berangkat menuju Merabu. Menempuh 127 kilometer perjalanan darat sekitar empat jam. Kami menempuh jalur Kampung Muara Lesan dengan menyeberangi bentangan Sungai Kelay dengan kapal tugboot besar milik warga lokal dl Kampung Muara Lesan. Ada dua jalur untuk menuju Merabu lewat jalur Kampung Muara Lesan dan jalur provinsi lewat Kampung Merapun yang membutuhkan waktu leblh panjang sekitar 6 jam perjalanan darat.

Walaupun liku-liku yang yang melelahkan terpatahkan oleh indahnya panorama gunung karst yang tampak dari kejauhan. Dengan warna abu-abu gelap menjulang tegas bermahkotakan awan putih bak asap alam yang memancarkan kemakmuran, dan yang di darat tampak menyatu dalam keharmonisan. Ya itu, Itu gunung karst yang terletak di Merabu dan akan menjadi tujuan field trip, agar kaml mengetahul lebih dalam akan pentingnya alam bagi kehidupan makhluk hidup. Warga Merabu merupa-kan warga yang menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dan kebersaamaan. Sesampainya dl Merabu, kami berangkat menuju destinasi pertama, yaitu Danau Nyadeng. Perlu waktu sekitar 30 menit menyusuri derasnya sungai Merabu, dan 30 menit melalul hutan belantara sebelum berjumpa dengan Danau Nyadeng yang benIng nan memanjakan. Air yang begitu dingin dan jernih, aroma khas hutan, pemandangan gunung karst yang menjulang tinggi dengan segala keindahan-nya menambah kekaguman rombongan. Luar biasa. Ini luar biasa, ya Rabbi. Danau Nyadeng terdirl dua danau utama. Danau pertama memiliki kedalaman 13 meter, sedangkan danau kedua lebih dari 6 meter. Kedua danau tersebut diplsahkan oleh bentangan sebuah batu.

Uniknya lagi, air danau tidak pernah surut Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, kami mengakhiri perjalanan di danau Nyadeng dengan selfie bersama. Terbesit di benak kami, alr memang selalu mengajarkan ketenangan bagi jiwa. Sebaik-baiknya sedekah adalah air• karena la membawa rasa bahagia dan rasa syukur. Danau Nyadeng adalah sediklt sedekah Allah di sudut bumi di tanah Berau. Perjalanan menuju kampung sudah hampir magrib. Terlihat banyak warga tengah mandi dan mencuci di sepanjang kresik pinggir sungal, seakan menyambut kedatangan kaml. Sesampai di guest house kami mandi, menylapkan makan malam dan beristirahat Kampung terlihat sepi memang malam Itu, karena penerangan seadanya, hanya beberapa titik sudut rumah yang memancarkan cahaya lampu. Tapi menyu-rutkan kebersamaan warga untuk berkumpul dan bermusyawarah. Gilang turut larut dalam pertemuan aparatur kampung kecil balai pertemuan Kerimapuri. Rupanya ada musyawarah kampung. Dengan penerangan seadanya, di bawah redup-redup cahaya lampu, saya melihat sebagian warga tengah berkumpul.

Pertemuan itu membahas program-program yang akan dijalankan. Acara berlangsung cukup interaktif. Dipandu kepala kampung dan ketua Kerimapuri, perwakilan tetua masyarakat, dan rukun tetangga silih berganti menyampaikan pendapat. Menyenangkan bisa menyaksikan pem andangan seperti itu di salah satu sudut kampung di Berau. Kerama-han dan kehangatan warga tampak darl hidup berdampingan dan saling melengkapi. jauh dari ingar-bingar kemewahan pertemuan di kota, yang tidak jarang berakhir tanpa makna. Dalam pertemuan itu juga membahas mengenai upaya pening-katan kapasitas masyarakat, aparatur dan pendidikan. Terutama dengan makin berkembangnya kampung seiring perkembangan kebijakan-kebijakan baru dari pemerintah, di mana warga merasa perlu untuk belajar dan menguatkan kapasitas. Beberapa usulan dari perwakilan warga disampalkan dalam pertemuan, kehadiran Yakobi juga diminta memberl masukan mengenai kemungkinan upaya peningkatan kapasitas yang bisa dikembangkan bersama ke depan. (“/fir) Sumber : Beraupost

BELAJAR DARI ALAM: Penulis bersama anggota Yakobi menelusuri keindahan Merabu, Kecamatan Kelay.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*