Tuesday , 23 January 2018

Workshop on the perspective of Holy Quran, Prophetic Hadiths, and the Classical Scholars Texts of Islam regarding Climate Change and REDD+ “Versi Indonesia”

Introduction
Krisis lingkungan yang terjadi saat ini telah mengakibatkan perubahan iklim secara global dan memberikan dampak kepada seluruh umat manusia. Bila umat manusia di muka bumi ini tidak segera melakukan pencegahan secara berjamaah, maka bumi ini akan menjadi tempat yang tidak aman dikarenakan berbagai bencana yang akan semakin sering melanda. Bencana seperti banjir, tanah longsor, badai, kepunahan aneka satwa, suhu udara yang terus meningkat drastis, aneka penyakit dan sebagainya.

Berbagai upaya di tingkat global telah dilakukan untuk mengurangi dampak tersebut. Padatingkat lokal, Kabupaten Berau merupakan salah satu dari empat Kabupaten di Indonesia yang telah dijadikan wilayah aktivitas demonstrasi (Demontration Activities) untuk mengurangi deforestasi dan degradasi hutan REDD (Reducing Emissionsfrom Deforestation and Degradation) oleh Kementerian Kehutanan RI pada Januari 2010 dengan intervensi program perbaikan tata kelola lingkungan, perbaikan rencana spasial-RTRW Kabupaten dan program masyarakat. Inisiatif ini dilakukan secara kolaboratif oleh Pemerintah Kabupaten Berau, Pemerintah Propinsi Kalimantan Timur, Wakil Pemerintah Pusat (Kementerian Kehutanan, Bappenas, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian LingkunganHidup) dan The Nature Conservancy (TNC).

Inisiatif program REDD di Berau yang lebih dikenal dengan Program Karbon Hutan Berau (PKHB), merupakan serangkaian aktivitas yang saling berhubungan untukmengurangi dampak kerusakan dan penggundulan hutan yang dapat berakibat meningkatnya emisi gas rumah kaca, rentannya kerusakan Keanekaragaman hayati, jasa lingkungan dan sumber penting budaya dan penghidupan masyarakat. Ikhtiar ini sangat membutuhkan kepedulian dan peran serta dari seluruh lapisan masyarakat.Kabupaten Berau yang mayoritas penduduknya beragama Islam tentu menempatkan posisi ulama dan pondok pesantren pada posisi sangat sentral dan berada diujung tombak.

Komunitas pesantren merupakan bagian yang terdepan dalam memberikan kontribusi dalam mensosialisasikan pentingnya konservasi alam. Islam sebagaiagama yang membawa rahmat kepada semesta alam memiliki kebijakan dan kearifan yang bisa digali dari sumbernya yaitu: Al-Quran dan AsSunah. Atas dasar tersebut pula para ulama tradisional pernah merumuskan sejumlah kitab klasik (kitab kuning) yang mengandung pedoman dalam pelestarian alam.

Pesantren memiliki potensi sebagai media penularan pengetahuan, perubahan sikap serta perilaku yang ramah terhadap lingkungan dan pembangunan ditingkat masyarakat dalam upaya bersama untuk membuat gerakan perubahan gaya hidup yang ramah lingkungan. Tokoh agama, ulama dan Pengurus Pondok Pesantren bersama organisasi masyarakat sipil memiliki peran strategis untuk mendidik dan penyadartahuan.Sumbangan yang dapat diberikan berupa penyebaran informasi perspektif Al-Quran, Al Hadist dan Kitab Salaf/Kitab Kuning terhadap upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Tokoh agama dan Pimpinan Pondok Pesantren adalah sumber rujukan informasi dan arahan kehidupan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.Pada umumnya 2 Partnership between RECOFTC and YAKOBI
secara aktif memberikan teladan dan posisi untuk menjelaskan mengenai visi Islam dalam kehidupan dengan berbagai sarana penyampaian baik ceramah, khutbah maupun pengajian masyarakat.

Guna merumuskan pedoman dan hikmah diperlukan waktu dan kebersamaan untuk membahas dan menggali pandangan khasanah Islam dari sumber-sumbernya, maka dirasa penting untuk mempertemukan para alim ulama dalam sebuah forum atau majelis.Selain itu, forum atau majelis ini bisa dijadikan sarana untuk saling berbagi diantara alim ulama maupun dengan pegiat konservasi dan lingkungan hidup yang ada di Kabupaten Berau.

Download (PDF, 3.13MB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*